

KOTA YG AMAN
Suasana kota-kota di Hadramaut cukup menyenangkan,
jalan-jalan yang ada bukan terbuat dari batu,
namun rata-rata bersih karena angin sahara sering
turut menyapu jalan-jalan kota itu.
Jarang sekali ada kursi di rumah-rumah penghuni,
yang ada ialah qatifah (permadani),
tempat menampung dhuyuf (para tamu).
Fungsi permadani memang di sini jadi serba-guna:
untuk menerima tamu (istiqbaal), namun juga untuk tempat makan.
Tak jarang tempat yang sama ini juga dibuat untuk aktivitas ibadah,
seperti shalat, rouhah (pengajian) maupun dhikir.
Bahkan jika ruang tak cukup untuk menerima tetamu yang tidur,
qatifah jadi alternatif tempat tidur cadangan.
Sisa-sisa tradisi ini masih ditemui keturunan Hadharim di Nusantara.
Di Hadramaut terdapat sekitar 365 Masjid Jami',
jumlah ini sama dengan jumlah hari dalam setahun.
Rata-rata masjid yang ada sudah ma'mur
(terpelihara dan banyak jama'ah)
karena para pengurus ta'mir yang mengelola tak perlu susah
"mengajak" orang untuk shalat dan beri'tikaf di dalam masjid,
sebab kesadaran rohaniah warga Hadramaut terhadap ibadah mahdhah
cukup tinggi,
hingga membuat masjid jadi satu-satunya bangunan yang paling ramai
dikunjungi warga sampai kini.
Hadramaut dikenal luas oleh masyarakat keturunan Arab di Indonesia.
Hampir seluruh masyarakat keturunan Arab di Indonesia
nenek moyang mereka berasal dari hadramaut.
Sebelum Perang Dunia II banyak orang mengirimkan
anaknya untuk belajar ke Hadramaut,
sebuah daerah di propinsi Yaman Bagian Selatan.
Sayangnya setelah merdeka dari Inggris,
Yaman Selatan dikuasai oleh komunis.
Selama 26 tahun pemerintahan komunis,
hubungan antara Hadramaut dengan Indonesia seolah-olah terputus.
Setelah ideologi komunis ditolak rakyat Hadramaut,
sejak pertengahan 1990-an,
seperti meneruskan tradisi dimasa lalu,
semakin banyak warga Indonesia yang mengirimkan
anak-anaknya untuk menempuh pendidikan di kota itu.
Di Hadramaut yang terletak 3.070 kaki di atas
permukaan laut terdapat dua pesantren ternama.Selain Darul Mustafa,
ada juga Darul Zahrah. Bila yang pertama ditujukan untuk santri putra,
maka Darul Zahrah merupakan pesantren khusus putri.
Meskipun tidak sebanyak santri pria,
banyak orang tua yang mengirimkan putrinya untuk belajar di Hadramaut.
Biayanya juga tidak mahal.
Cukup 20 dolar AS per bulan.
Uang sebesar itu sudah dimasukkan biaya makan tiga kali sehari selama sebulan.
Mereka tinggai di asrama yang masing-masing ruang tidurnya ber-AC.
Tapi, biaya bukan satu-satunya syarat.
Selain calon santri punya kemauan kuat untuk menuntut ilmu agama,
ia juga dimestikan menguasai pelajaran agama Islam bidang fikih, nahwu, dan hadis.
Syarat yang tidak kalah pentingnya adalah ia sudah harus hafal Al-Qur’an
dari surah Adh-Dhuha hingga An-Nas. Dan ini yang paling penting,
usia tidak boleh lebih dari 19 tahun,
menguasai serta bisa menulis dalam bahasa Bahasa Arab.
Di samping itu, santri harus mendapat izin dari orang tua atau walinya. Da,
selama di pesantren, para santri diwajibkan berbahasa Arab.
Khusus calon santri dari negara-negara Barat,
harus melampirkan riwayat hidup dan ijazah pendidikan
sekolah formal maupun nonformal.
Ia juga harus punya pengalaman dalam kajian Islam dan
mendapatkan rekomendasi dari guru yang mencantumkan
kemampuan akademik dan perilakunya.
Untuk calon santri perempuan, syarat-syaratnya tidak jauh berbeda
dengan calon santri laki-laki.
Pesantren ini merupakan sistem gabungan antara sistem modern dan tradisional.
Lama belajar 18 jam sehari, hingga para santrinya boleh dikata
sejak bangun sebelum subuh ditempati dengan pendidikan yang berat.
Tetapi jangan dikira di pesantren ini tidak ada permainan menyenangkan.
Tiap hari Jum’at ---yang merupakan hari libur--- mereka boleh memilih aneka kegiatan olah raga.
Pesantren yang lama pendidikan rata-rata empat tahun ini,
tidak mengenal sistem pendidikan kelas, seperti juga di pesantren Indonesia.
Setiap siswa hanya belajar memahami dan mengkaji beberapa kitab.
Tentu saja dengan bimbingan seorang ustadz.
Setelah itu baru diuji. Bila lulus,
santri melanjutkan belajar kitab yang lebih tinggi.
Dalam ruang belajar yang dipimpin seorang ustadz,
paling banyak terdiri dari 12 orang santri.
Tidak heran bila di pesantren ini ada sekitar 150 ustadz pilihan yang mumpuni.
Disiplin yang diberlakukan di pesanteen ini sangat ketat.
Jauh sebelum subuh yakni pukul 03.45, para santri sudah harus bangun.
Setelah mandi dan bersuci melaksanakan shalat tahajud,
dilanjutkan membaca berbagai macam zikir. Pada sekitar pukul 05.00 shalat subuh,
dilanjutkan membaca atau menghadapi AlQur’an.Baru pada pukul 06.00 para santri mendapat pelajaran formal.
Setelah itu diteruskan dengan pelajaran formal kembali hingga pukul 09.00.
Setelah sarapan dilanjutkan dengan menelaah hadist,
tauhid dan tafsir. Pukul 10.40 mereka baru diperkenankan istirahat kembali.
Setelah shalat Dhuhur mereka membaca atau menghafal Al-Qur’an kembali,
Pukul 13.45 makan siang dan istirahat atau melakukan kegiatan ekstrakurikuler.
Setelah shalat Ashar, pada pukul 18.45 para siswa mendapat pelajaran kebersihan dan tasawuf.
Menjelang Maghrib istirahat sejenak dan dilanjutkan pelajaran formal (ilmu fikih)
hingga pukul 20.15. Dalam hal makan, para santri mendapat jatah makan 3 kali sehari
ditambah dengan makanan ringan.
Seperti yang dikatakan Ubaidilah, aib bagi siswa untuk makan di restoran.
Ini bertentangan dengan prinsip belajar yang diterapkan di Darul Mustafa.
Menurut informasi sampai saat ini ada sekitar 500 lebih siswa yang berasal
dari Indonesia, yang saat ini sedang belajar di Hadramaut,
terutama di madrasah Darul Mustafa, Hadramaut.
Sudah saatnya bagi umat Islam untuk kembali belajar Islam di negara Islam. Bukan sebaliknya,
belajar dan memperdalam Islam di negara Barat,
seperti yang selama ini dilakukan oleh umat Islam.*
di dapat dari http://channel-ikan.4t.com/Hadramaut.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar